Showing posts with label CELOTEH. Show all posts
Showing posts with label CELOTEH. Show all posts

Tuesday, June 4, 2013

Apapun, tanpa terkecuali

Seperti yang selalu saya dengungkan sendiri di telinga, mengucap dalam hati layaknya sebuah mantra:
"everyone is struggling .."

Satu kalimat ini nyatanya cukup manjur ketika saya dihadapkan dengan ujian dari-Nya

lebih sederhana nya mungkin tergambar pada kalimat ini:
"Woy, cy, emang yang punya masalah.. elo doang? Emang yang lagi diuji sama Allah, elo doang?"

jawabannya jelas-jelas "Enggak",

dan pada kenyataannya saya pun menyaksikan sendiri betapa orang-orang di luar sana, bahkan orang-orang terdekat saya, orang-orang dalam lingkaran yang bersinggungan, juga mengalami masa-masa struggling yang mungkin tidak pernah terbayang oleh orang lain.
Dan Subhanallah Alhamdulillah.. saya termasuk orang beruntung karena diberi kepercayaan diperdengarkan langsung kisah-kisah itu.

Yep, everyone is struggling. Yang membedakan hanyalah bagaimana cara masing-masing individu coping dengan ujian-ujian tersebut. Mereka yang ahli, adalah mereka yang senantiasa bersyukur.
 
Jujur, saya belum termasuk golongan ahli itu, karena saya masih sering melihat ke atas, bukan ke bawah. Dan hal itulah yang juga seringkali membuat saya merasa kekurangan dalam kecukupan

Allah Maha Baik, selalu menghadirkan pengingat dalam hidup saya, baik dalam bentuk apa maupun siapa.

Saya tahu, Allah SWT sedang mengajarkan hamba-Nya ini. Untuk merunduk, tanpa merasa rendah diri. Untuk berjalan tegak, tanpa merasa tinggi hati. Dia, ingin saya belajar untuk senantiasa melangkahkan kaki di muka bumi ini dengan sederhana

..dan sekali lagi, belajar untuk senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun. Apapun, tanpa terkecuali.

Sunday, May 12, 2013

Reverse


Wangi teh hijau menyeruak dari mug yang kini berada dalam genggaman. Sedikit bergetar karena empunya baru saja pulang dengan basah kuyup. Kedinginan ditempa tetes hujan yang turun tanpa ampun, seakan langit sengaja menumpah berjuta kubik air. Untuk apa, itu yang tak kutahu. Agar ia lega, mungkin?

Lega. Satu kata yang terngiang dalam beberapa hari terakhir. 
Hitungan hari, yang entah bagaimana caranya mampu memberi sekian banyak pembelajaran. Memberi sekian banyak jawaban atas pertanyaan yang selama ini tersimpan rapi dalam benak.
Meski, beberapa diantara jawaban itu membuat jurang realita dan ekspektasi menganga lebar, dan harap ini jatuh bedebam; dan si empunya membisu. Bingung dengan mekanisme yang ada. 

Meski begitu, lagi-lagi semua ini tentang belajar. Belajar bagaimana seharusnya menyikapi segala hal dengan kerendahan hati.
Menyikapi disonansi dua kata ini: "ingin", dan "butuh".



Ah, kan, sepertinya aku terlalu banyak berceloteh. Jam dinding kulirik: disana menunjukkan pukul 1.58 pagi. Pantas saja.


Aku mengalihkan perhatian, kembali, pada mug berisi teh hijau yang ada di depanku. Sudah dingin. Aku mengaduknya dengan enggan. Setengah berharap isi mug tersebut adalah teh raspberry alih-alih teh hijau pekat.
Eh? Secangkir teh raspberry? Refleks, bibirku melengkungkan senyum.



..dan sebuah nama pun bergaung, lagi.

Nama yang dulu berlabelkan "ingin", dan kini berubah menjadi "butuh".

Saturday, April 20, 2013

Breeze September Night



1 September
19.00 

Aku melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa di jalanan yang ramai dengan turis. Angin di Vienna meniupkan udara dingin yang tak wajar. 
Setibanya di depan pintu restoran, aku mematung. Keraguan kembali menghadang. Namun aku meyakinkan diri untuk berbesar hati

"Double espresso, please" ucapku pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari tempatku duduk.

"Espresso? Again? Chocolate milk is far more relaxing. Here, have a cup", ujarmu sambil menyodorkan segelas susu cokelat yang masih mengepul.

"No thanks"

Matamu menatapku lekat.

"I mean, I would love to, but not tonight"

"Do you think there will be another night?"

Entah mengapa kalimat itu membuat rahangku mengeras.

"You've got to be kind to yourself. Lihat, bahkan kamu jauh lebih kurus dari kali terakhir kita bertemu"

"Don't worry about me, I'm fine. Hanya sedang membutuhkan ekstra kafein malam ini untuk membuatku tetap terjaga. Deadline assignment sudah di depan mata, and I don't have a time to relax. Even a bit"

Kau menghela napas.

"Terimakasih," ucapmu sepenuh hati

"Untuk?"

"Karena di tengah kesibukanmu, kau masih menyempatkan untuk duduk disini, sekarang"

"Nevermind. Sejujurnya aku memang butuh suasana baru, dan Vienna ternyata kota yang cantik"

Sejujurnya, aku berbohong. Bukan suasana baru yang aku butuhkan, tapi keberadaanmu. Eksistensimu. Satu-satunya kesempatan untuk tetap merekammu dalam ingatan.

Senyummu mengembang.

"I've already told you!! Kamu nggak bosan, apa? London is a beautiful city, tho, but I can guarantee you.. Vienna is.. somewhat special. It has a magical touch that can warm your heart"

Sayup terdengar musik mengalun lembut

I met you in the city of the light, on a breeze September night..

"Yeah, I couldn't agree more", ucapku menambahkan, "So, tell me everything. Kedua kuping saya sudah siap, tuan putri.."

Matamu berbinar.. dan kisah demi kisah pun mengalir.

***

Kita berjalan bersisian. Menikmati jalanan Vienna di kala malam dengan pencahayaan bulan yang keperakan.

"Jadi, setelah ini, dimana aku bisa menemukanmu lagi?" ucapku memecah keheningan

"Katanya kita punya telepati?"

"Aku percaya pada kebetulan, bukan telepati"

"Kalau begitu, ikuti kata hatimu"

Aku terdiam.
Tidak ada satu pun kata yang terlontar, hingga pada akhirnya kita tiba di persimpangan jalan.

"So, this is the time to say goodbye?" tanyaku

Kau menggeleng.

"If you brave enough to let me go, I'll always find a way to come back"

Saat itu aku berharap waktu berhenti, karena kemudian langkahmu menjejak menjauh dari tempatku berdiri.

"See you, soon" ucapmu sembari melambaikan tangan

Aku melempar senyum. "Take care" ucapku. Dalam hati.


Lagu yang mengalun di restoran tadi kembali terngiang

Still I wonder If I could stay for a while,
you see, it's been a while since I felt this way
but.. we both know time is closing in
till I'll be gone,
you'll be too,
on that night I let you walked away




*adapted from Adhitia Sofyan's song: September

Thursday, April 4, 2013

My number one man


31 Maret 2013

Hari ini genap usiaku menginjak angka duapuluh. 
Angka yang mungkin akan terasa biasa saja jika seandainya tidak kutemukan sebuah pesan masuk muncul di layar handphoneku pagi-pagi sekali. Darimu, yang sedang tidak berada di rumah.
Pesan tersebut berisi rangkaian doa (yang kini bertambah satu konten),
yang diam-diam kuamini dalam hati..
juga sebuah permintaan maaf--yang membuat tertegun.
Sebuah permintaan maaf yang tak perlu terlontar, karena sungguh--aku tak pernah meminta apapun.

Mungkin aku memang akan selalu meminta, bukan padamu, tapi padaNya.
Meminta, memohon, untuk kesehatanmu.
Untuk kebahagiaanmu.

Karena bagiku, kado terindah adalah dengan tetap melihatmu senantiasa menginjakkan kaki di rumahNya, juga menghiasi rumah mungil ini dengan lantunan ayatNya setiap pagi dan petang.

Tak pernah bosan aku berkata seperti ini: Allah SWT sangat menyayangi engkau. Aku yakin itu.


Terimakasih, untuk semua nilai dan pelajaran hidup yang kau berikan.
Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaanmu, 
kau adalah imam terbaik bagi keluarga ini.



Dear daddy,  no matter where I go in life, and who I get married to (someday)..
you'll always be my number one man :)

Sunday, March 24, 2013

Ignorance is bliss.

Iya, setuju dengan kalimat di atas.
Setuju bahwa overthink almost everything ujung-ujungnya malah bikin capek sendiri.

Dan kemudian, mendapatkan pemahaman kenapa selama ini
secapek itu

karena, satu hal ini bukan sesuatu yang bisa di-ignore
satu hal ini mutlak menjadi hal yang paling menyita pikiran.

Ah, cukup lah denial nya. Meski memang butuh waktu, semoga saja Allah mempermudah hambaNya ini untuk beranjak ke tahap selanjutnya: acceptance.

Acceptance is bliss, cy. Acceptance is bliss.
:)

Sunday, March 17, 2013

Hai, partner resiliensi


Haven't seen you guys since more than a week ago

Dan seperti mbaknya bilang, "Untuk beberapa hari ini yang menjadi tidak cukup mudah untuk masing-masing dari kita"---gue setuju.
Meski begitu--meski tahu kondisi kalian seperti apa--dengan bandelnya, gue masih saja merecoki dan meminta kalian mendengar.

Semula memang gue lebih banyak memilih untuk menjadi pendengar, dan menyimpan semuanya karena merasa masih mampu untuk menguatkan diri sendiri.

Terlebih, and to be honest, gue punya ekspektasi tinggi untuk didengar penuh, dan pada akhirnya lebih memilih untuk tidak bercerita karena takut kecewa.

Tapi, akhir-akhir ini gue sadar,  
dengan memilih untuk tidak bercerita karena takut dikecewakan,
itu artinya gue terlalu banyak menuntut.
Menuntut waktu kalian.
Menuntut kehadiran kalian.
Menuntut kalian untuk selalu jadi pendengar aktif.

Padahal, kita semua juga punya kepentingan masing-masing, bukan? :)

Maaf, karena Acy yang sekarang mungkin akan sering "berceloteh". Tentang hal yang dulu selalu di-keep sendirian.

Gue tidak menuntut apapun kali ini.
Gue cuma butuh tumpah. Itu aja. :)



Untuk masnya, selamat ulang tahun, dan cepat pulih. Insya Allah, sakit itu pertanda dosa-dosa kita sedang digugurkan oleh Allah SWT. Aamiin
Untuk mbaknya, jaga kesehatan, ya, biar gak mengecewakan banyak orang. And always remember one thing: untuk menguatkan seseorang 100%, kita harus kuat 400%. Kuat, kuat, kuat! Hehe

:)

Sunday, March 10, 2013

Are you, my penguin?


Teruntuk kamu yang selama ini tersimpan di laci waktu (dan masih tersimpan hingga tulisan ini dibuat)



"When penguins find its soulmate, they stay together for the rest of their lives--even if they are separated or something happens"

aku melangkahkan kaki di atas pasir
menikmati buih putih berusaha menggapai bibir pantai

aku merangkum semua
setiap detik perjalanan yang tak pernah sederhana,
namun pada akhirnya
membawa aku dan kamu
kepada kita

debur ombak menyadarkan lamunan,
dan jejak kakiku di pasir..
kini tidak sendirian


"Hei, sepertinya minggu depan kita tidak perlu pergi untuk melihat penguin. Wish listku yang satu itu, aku tarik lagi, deh"

"Kenapa?"

"Haha untuk apa? Penguin nya toh ada disini"

"Disini?"

"Yep. Standing right next to me"

"Wait wait, do you refer me as a penguin? Errr, do I look like one?"

"Hahaha nevermind, dear. Soon you'll know why"

"..and he's the one that you were born to love.."

"Jadi, kita akan kemana lagi setelah ini, nona? Tolong wish list yang berjudul Aku ingin pantai yang warna lautnya bergradasi diberi checklist ya", ucapmu dengan nada diplomatis. Seakan permintaan itu merupakan titah permaisuri yang menyebalkan.

aku tertawa.

"Kita pulang kali ini"

"Yakin?"

"Mm-hmm", aku mengangguk

"Oke.. Lagipula, aku rindu rumah. Semalam aku membayangkan benalu di pagar rumah kita yang pasti sudah merambat kemana-mana. Ergh"

aku tertawa, lagi.

mentari mulai tenggelam di ufuk barat,
mengantar sebuah pemandangan
yang sedari dulu kita puja.

"Next time, I'll take you to Alaska", katamu

"Why?"

"Karena ada sesorang yang punya impian terpendam ingin menari di bawah Aurora, bukan begitu?"

Ah.

Aku tersenyum.

"Terimakasih, tapi tidak perlu. I would love to dance with you, not under that Aurora thing, but in our backyard"


"Love like this may come once.. baby we're fate.
Like a soulmate, you're my penguin. 
Baby it's fate
baby it's fate, not luck"






*backsound: Christina Perri-Penguin*

Sunday, March 3, 2013

Tumpah

Aku memandangimu yang tengah menelungkupkan wajah dibalik bantal,
menangis tak henti untuk satu hal yang tak mereka mengerti.
Seperti biasa, aku hanya menunggu
sampai kamu berhenti meronta dan mau berkata.

Dan kemudian kamu duduk tegak menghadapku, sambil masih bercucuran air mata.

Ritual negosiasi kita berjalan alot, lagi-lagi. Hingga sampai pada titik dimana kamu mengangguk setuju. Tangan kecilmu menggenggam tanganku. Sembari masih terisak, kamu berkata agar aku tidak kemana-mana.

Aku mengeraskan rahangku, dan mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha sekeras mungkin agar air mata ini tidak jatuh.

Ya Allah..
sebanyak apa hal yang aku lewatkan?

Ampuni aku, dan segala ketidakberdayaan ini Ya Rabb..

Tuesday, January 1, 2013

Januari 2013..

.. adalah bulan dimana saya Insya Allah akan banyak belajar.
Di sebuah daerah bernama Kampung Salam, Desa Kutamekar, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Di sebuah sekolah bernama SDN Kutamekar 3.

Bismillahirrahmanirrahim..

Monday, December 31, 2012

Ambivalensi

Di malam penghujung tahun--dimana sebagian besar orang bersuka ria, menghabiskan waktu entah dengan teman, keluarga, dan orang-orang terdekat..
saling mengucap "Selamat Tahun Baru"
merangkai satu demi satu resolusi di tahun depan
berbisik harapan-harapan..

Begitupun saya--yang Alhamdulillah nya masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk berkumpul dengan keluarga di malam penghujung tahun ini.
Meski tanpa perayaan macam-macam,
hanya berkumpul di ruang tengah--menonton film-film menarik yang disajikan di layar kaca (Spesial Tahun Baru, katanya), dengan cemilan-cemilan ringan dan beberapa jagung bakar. Sudah. Itupun paling-paling yang terjaga sampai tengah malam nanti hanya saya, dan papa. Sisanya? Terlelap karena kekenyangan.
Sederhana, tapi memang beginilah cara saya melewati malam tahun baru. Intinya bersama keluarga. Titik.

Tetapi malam ini berbeda dari biasanya. Ada satu hal yang mengganjal. Mungkin ini namanya ambivalensi.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kabar duka dari sahabat saya, Dian. Ibundanya tercinta berpulang ke Rahmatullah.
Belum selesai suasana duka itu, sore ini saya kembali mendapat kabar duka
dari sahabat saya, Jessica. Ayahnya juga baru saja dipanggil olehNya.

Ya Allah..
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..

Jujur, bergidik saya membayangkan berada di posisi mereka berdua.
Entah, dunia saya akan jungkir balik seperti apa.
Entah, apakah keceriaan masih bisa tergambar dalam wajah saya malam ini,
dan malam-malam seterusnya.

Hanya bisa mengirim doa 
untuk kedua sahabat saya--yang baru saja mengalami kehilangan..

Kuatkan mereka Ya Rabb..
Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaMu
Aaamiin

Sunday, December 30, 2012

Maaf & Terima kasih

Semester tiga resmi berakhir. Semester penuh upside-down, dan bikin banyak ber-inhale-exhale-ria. Semester yang--bisa dikatakan banyak membuat saya belajar. Termasuk belajar untuk berkata "tidak" di kesempatan yang lain. 
Semoga bisa, karena emang buat saya segitu susahnya.
Semoga bisa, karena saya takut--kepentingan demi kepentingan yang saling bertabrakan, bisa membuat semuanya berantakan. 
Termasuk ketakutan akan satu kata: kecewa.

Sekarang pun, sepertinya berhutang maaf sama banyak pihak,
dan lebih banyak berhutang terima kasih.

Untuk kalian, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu:

"Maaf, dan terima kasih. Banyak :)" *





*p.s: Insya Allah akan disampaikan langsung, satu persatu. Hehe

Guru Hati

29 Desember
Jalan-jalan CoH
Balairung UI

"Ayo adik-adik, sekarang waktunya kita menggambar.. Di sebelah gambarnya kalian boleh tulis cita-cita kalian ya.."

Semua anak sibuk menggambar.
Sepuluh menit berselang, aku menghampiri seorang anak yang memakai baju merah. Namanya Viranda.

"Viranda, kamu gambar apa?"

"Gambar sekolah.."

"Wah, bagus ya.. Cita-cita Viranda apa?"

.....
tidak ada jawaban. Gadis kecil di depanku ini hanya tersenyum sambil tersipu malu.
Kulihat sekilas kalimat yang tertulis di kertas yang ia pegang.

menjadi guru hati
orang jadi lebih baik oyah

Anggi, yang berada di samping Viranda, membacakan tulisan tersebut dan berkata,
"Ah, tulisan Viranda enggak jelas. Enggak ngerti"

Aku tersenyum, lalu bertanya pada Viranda,
"Jadi kamu mau jadi guru ya?"

Ia mengangguk.

"Viranda mau jadi guru hati, supaya orang jadi lebih baik, gitu?"

Ia kembali mengangguk.

Aku tidak sepenuhnya yakin bahwa itulah yang dimaksud. Anak-anak terkadang punya imajinasi yang lebih luas dari seantero jagat raya, bukan?
Ah, apapun yang sebenarnya Viranda maksud,
satu hal yang aku pahami: ia mau menjadi guru.

Guru apapun itu. 
Guru hati sekalipun,
semoga bisa menebar kebaikan ya sayang :)

Saturday, December 15, 2012

Love Letter from A Proud Sister


Hai, adik kecil

Malam itu kamu banyak berceloteh, setelah sebelumnya aku berkata,
"dek, cerita dong"
"cerita apa?
"apa aja boleh"

..dan semuanya pun mengalir

tentang kamu yang sekarang bisa kemana-mana sendiri
"kemarin aku ke rumah temenku naik angkot loh gak dianter"

tentang kamu yang jadi duta lingkungan di sekolah
"emang tugasnya apa aja?" tanyaku
"ngingetin temen-temen buat jaga kebersihan sama supaya buang sampah di tempatnya"

tentang kamu yang jadi dokter kecil di kelas
"nah, kalo dokcil, ngapain?" tanyaku lagi
"setiap sebelum temen-temenku masuk kelas, aku periksain kukunya, giginya juga, sama pakaiannya rapi atau enggak"

tentang kamu yang selalu jadi ketua kelompok

tentang kamu yang kemarin dapat nilai A+ untuk praktik UAS tari daerah
"aku yang bikin gerakan tari badindi buat kelompokku" katamu
dan aku bertanya "iya?kok bisa?"
kamu tertawa dan berkata lagi
"bisa dong, aku cari di youtube terus aku bikin deh gerakannya"

tentang kamu yang (masih) jadi 'pengusaha' kecil dengan berjualan macam-macam,
mulai dari pudding
sampai kertas mewarnai

dan aku teringat suatu hari kamu pernah menangis tersedu sepulang sekolah
"uang jualan pudding di kelas ilang semua"
"berapa uangnya dek?" tanyaku
"dua puluh empat ribu"
kamu berlari masuk ke kamar dan menutup pintu
ah, tentu saja, dua puluh empat ribu adalah jumlah yang besar buatmu
apalagi itu hasil usahamu sendiri
bukan dengan minta mama papa

dan banyak tentangmu yang lainnya

tak ketinggalan,
tentang kamu
yang memahami
dan memaknai semua itu
dengan cara yang sederhana, tapi dewasa untuk anak seusiamu

meski terkadang, lelah itu tak terbendung bukan?
kamu yang bilang sendiri
kenapa kamu sering marah-marah tanpa sebab

Adik kecil,
aku belajar banyak dari kamu
tentang arti penerimaan
dan mungkin
sudah saatnya aku tidak lagi memanggilmu "adik kecil"

You've already grown up, my dear
and I'm a proud sister :)

Thursday, December 6, 2012

Teruntuk: Tuan dalam Perjalanan


Saya dan Anda,
dua asing, yang berpapasan dalam peraduan
kemudian bercengkerama,
dan  berbagi tanda tanya

Roda ini berputar,
dengan jejak yang jelas tegas.
Seolah memberi isyarat:
dalam perjalanan,
bekas itu selalu ada, Tuan.

Berkata saya pada waktu, yang berpacu
tanpa jeda:
Tunggu

Saya perlu rehat, sejenak.
Meski saya, dan Anda, sama-sama tahu,
dalam perjalanan ini
tidak ada satupun jemu.

Meski begitu,
Saya hanya manusia biasa, Tuan.

Jika anda lengah, saya bisa jengah.

Monday, December 3, 2012

P.S : I Love you

Malam ini rencananya mau lanjutin tugas Psikologi Perkembangan: Analisis Diri. 
Berhubung minggu kemarin sedang tidak ada kesempatan untuk pulang ke rumah--padahal buat mengerjakan tugas ini, butuh wawancara orangtua mengenai perkembangan kita dari mulai masih di dalam kandungan hingga masa remaja, alhasil cuma bisa wawancara lewat bbm sama Mama:

"Mah, dulu aku bisa jalan umur berapa ya?
"Mah, teteh waktu bayi sering nangis gak sih? rewel gak sih?
"Mah, mama waktu hamil aku, ngidam enggak?
"Mah, bla bla bla..."

...dan kemudian backsound di laptop muter lagu ini:

Mother have you seen your laughter
Fall into the arms of angels
Mother if you see me I’m all right

Range of clouds on sunny weather
Rise onto the breeze of meadow
Mother did you help God paint the sky?

When time will fade
Your words won’t vaporize
When time will fade
Your smile still hypnotize

Mother when you tell your stories
Children of the world will listen
Mother watch your glory lid the sky

Hear the wind beneath the branches
Just as rain drops touched the river
Mother did you sing on angel’s choir?

When time will fade
Your words won’t vaporize
When time will fade
Your smile still hypnotize

Adhitia Sofyan- Mother

:)


Wednesday, November 28, 2012

#noted 3


........
Baru nyadar ternyata memang se-berharga itu,
dan segitu nggak kebayang gimana jadinya, kalo sampe rusak
hanya karena ego.

Ego yang bahkan, mungkin, mendzalimi orang lain.

Astagfirullah..

Luruskan niat yuk, cy.

Sunday, November 11, 2012

See you, Banten :)

Kamis, 9 November 2012
11:16
@ Aula Gd. D Fakultas Psikologi

Sms masuk dari teh tuti.

"Nova, acy, icha, alhamdulillah, kita ke banten :')"

Deg.
Masih menatap layar handphone selama beberapa detik.
 Freeze.
Kemudian sms masuk, lagi.
dari panitia.
"Selamat kamu terpilih sebagai 30 Pengajar GUIM 2, pengumuman sudah dapat dilihat di website."
Rasanya pengen teriak. Terus loncat-loncat.
Tapi nggak mungkin.
Soalnya saat itu lagi menerima kunjungan dari Universitas Diponegoro.

Celingak-celinguk kanan-kiri, terus liat Kak Ava nganggur.
Kemudian bisik-bisik, "Kak, aku keterima GUIM"
seketika dipeluk super kenceng.

**
Selesai kunjungan, ketemu orang-orang. Diselametin. Dipelukin, lagi.
Berita baik cepat menyebar, ya :)

Di Akademos ketemu Obed, yang cuma senyum-senyum, jabat tangan gue, terus bilang,
"Sampai bertemu di Banten, Mbak Acy"

Ketemu Nova di H3. Gue pelukin.
Ketemu teteh di SC. Gue pelukin.
Sayang, Icha lagi sakit, jadi nggak ketemu.

 **
Subhanallah. Alhamdulillah. Alhamdulillah Ya Rabb.
Terimakasih untuk kesempatannya.
Terimakasih untuk kepercayaannya.
Amanah yang diemban ini bukan hal kecil.
Bantulah Hamba untuk menjalankannya, menyampaikannya, sepenuh hati.


Sampai jumpa Januari nanti, Banten :)




Rumah, 10 November 2012
"Mah, teteh keterima GUIM. Nanti Januari berangkat ke Pandeglang, Banten. Sebulan.."
disenyumin.
"Jaga kesehatan ya teh.."


Tuesday, October 30, 2012

Uncertainty

Tentang menyampaikan. Dan tentang ketika "lagi-pengen-menyampaikan-banyak-hal". Tapi, lagi-lagi, banyak "tapi.."-nya. Berbelit yah? 

Apa perlu, jadi kayak agen Neptunus: ngirim surat lewat perahu kertas, terus dialirin ke laut, berharap suratnya otomatis terkirim dengan nyalain radar pake kedua telunjuk dan jempol yang ditempel di pelipis? Haha! Nonsense.


**


Should I try this, anyway?

Saturday, October 20, 2012

And yes, been a year


Setahun (lebih enam hari) yang lalu, saya bikin postingan ini. Wow, time really goes that fast yah ternyata.. 
Kemudian, iseng re-read semua postingan yang pernah ditulis. 
Recall-ing.
Senyam-senyum sendiri liatnya, dan bersyukur--karena setahun kemarin, hari-hari saya se-colorful itu. 
Let's say.. shocking pink, electric blue, lime, light grey, creamy peach, baby pink, pale blue.. 
dan lain-lain. :p
Intinya sih, se-monoton monoton nya pun, masih ada sedikit warna pastel disana sini hehe. Alhamdulillah :)

Nah, setahun ke depan bakal gimana ya kira-kira? Semoga masih akan ketemu pelangi--dan matahari, dan hujan, dan petrichor..

..dan mungkin apapun, atau siapapun, yang masih berlabel misteri.

Tuesday, October 16, 2012

Siklus


Timbul dan tenggelam.
Nyala dan redup.
Repetisi.
Habituasi.

Tanda tanya.
Gelengan kepala.

..dan lagi-lagi kembali pada diam 
yang menyenangkan.

satu kata magis yang tak pernah mati:
"tersenyumlah" :)




*Depok pukul 1.23 pagi, saat terserang "sedikit" insomnia