Showing posts with label Sajak absurd. Show all posts
Showing posts with label Sajak absurd. Show all posts

Sunday, August 4, 2013

Pulanglah


Aku butuh diammu,
untuk meredam beribu asa yang meletup dalam diri.

Aku butuh sunyimu,
agar segala risau yang kukeluhkan
terlelap; hanyut dalam nyanyian selamat tidur

Aku menyanjung pikirmu,
disana rumit dan ramai
tapi semua tanya lantas tiada; berganti pemahaman, dan kesepahaman

Aku menyanjung lantunmu,
ia kusenandungkan berulang
hingga pemutar piringan hitam nampak jenuh

Aku merindu jejakmu,
yang tertinggal pada rerumputan
dan tanah basah;
pemadu ulung bagiku yang berkali tersandung, dan tersesat

Aku merindu matamu,
olehnya aku memahami; membahasa;
merangkai makna


Aku ingin hadirmu,
bukan sebagai bayang dalam kata, prosa,
dan puisi..



Segeralah pulang,
aku menunggumu dengan secangkir teh hangat di tangan

Saturday, December 15, 2012

Lagi-lagi hujan



Layaknya awan yang tak lagi punya pertahanan
membendung berkubik air
yang kemudian luruh
Jatuh
Sebagai hujan
yang menjejak bumi tanpa permisi

Semoga bumi tetap bersahaja
meski hujan sedikit meninggalkan jejak
pada setiap pori tanah nya

dan bahwa hujan akan berputar disana

Menuju muara,
sungai,
laut,
untuk kembali ber-evaporasi.

Semoga bumi tetap bersahaja.

Thursday, December 6, 2012

Teruntuk: Tuan dalam Perjalanan


Saya dan Anda,
dua asing, yang berpapasan dalam peraduan
kemudian bercengkerama,
dan  berbagi tanda tanya

Roda ini berputar,
dengan jejak yang jelas tegas.
Seolah memberi isyarat:
dalam perjalanan,
bekas itu selalu ada, Tuan.

Berkata saya pada waktu, yang berpacu
tanpa jeda:
Tunggu

Saya perlu rehat, sejenak.
Meski saya, dan Anda, sama-sama tahu,
dalam perjalanan ini
tidak ada satupun jemu.

Meski begitu,
Saya hanya manusia biasa, Tuan.

Jika anda lengah, saya bisa jengah.

Wednesday, January 18, 2012

Pelangi Imajinasi

Jika imajinasi diibaratkan dengan warna,
punyaku mungkin berupa pelangi yang besar melintang. 
Membentang. 
Disitu kau bebas bermain seluncuran,
dan temukan emas di ujung.
Kalau kau beruntung.

Monday, January 16, 2012

Cukup 33 kali


Mana yang kau pilih: mengunyah, atau menelan bulat-bulat?
Menelan lebih mudah, kurasa.
Tak perlu impresi; tak perlu sensasi
bahkan enzim sekalipun.

Mengunyah; membuatmu merasa
menerka
setiap substansi yang ada.
Kau harus pasang kuda-kuda,
ancang-ancang siapa tahu, ada rasa itu:
pahit.

Rasakan, setiap kunyahan.
Karena ia akan meresap,
mengalir,
menyebar.
Salah satunya bermuara pada rongga,
tempat semua rasa dirasa.

Mengisi kekosongan disana.

Beroksidasi menjadi energi.



Aku tengah mengunyah,
sembari dalam hati menghitung:

satu.. dua.. tiga puluh tiga.

Friday, January 13, 2012

Benang Merah

Mari putuskan semua benang merah yang selama ini terjalin.
Seolah terjalin.
Biarkan ia kembali saling berpilin pada waktunya.
Siapkan guntingnya.
Sekarang.












Dan samar terdengar suara *klik*.
Semua benang itu putus.
Helai demi helai jatuh ke lantai.

Saturday, December 31, 2011

Tentang 2011

Izinkan aku berbagi denganmu, tentang tahun yang penuh arti:
Tentang 2011

2011 adalah tentang "berpisah dan bertemu"
2011 adalah tentang "lama dan baru"

2011 adalah tentang "bangun dari jatuh"
2011 adalah tentang "menguji seberapa teguh"

2011 adalah tentang "teguran"
2011 adalah tentang "perbaikan"

2011 adalah tentang "mengambil keputusan"
2011 adalah tentang "proses memantaskan"

2011 adalah tentang "melukis mimpi"
2011 adalah tentang "inspirasi"

2011 adalah tentang "diam"
2011 adalah tentang "meredam"

2011 adalah tentang "berbesar hati"
2011 adalah tentang "sadar diri"

Terimakasih 2011,
untuk cokelat panas
untuk semburat merah muda
untuk pelangi
untuk warna
untuk hujan
untuk wanginya

Terimakasih untuk-Mu, atas segalanya :)

Sunday, December 25, 2011

Maaf untuk Hati

Tolong maafkan,
atas ketidakpiawaianku menilai
atas ketidakmampuanku membaca.
Tolong maafkan,
atas semua prasangka 
yang mungkin berlebihan
yang kini membuatmu tertatih.
Tolong, jangan berbalik,
karena aku sedang belajar.
Belajar untuk mencerna bisikanmu,
"sudahlah, itu terlalu tinggi"

Sunday, November 6, 2011

Biru itu..

foreversinging
















Terik sinar matahari yang menyengat,
tak lantas membuatku bersembunyi
Aku berlari, dengan bertelanjang kaki
Pasir putih itu terasa hangat
"Hari yang cerah", ujarku
Lihat! Gradasi warna itu!
Biru, biru, dan semakin biru membentang cakrawala
"Mari bermain!" ujar sang camar
yang terbang meliuk, sesekali menerjang lautan
Mungkin dia sedang cari ikan
Ah, kupejamkan mata dalam ayunan
Kurasakan semilir angin, dan aku tertidur
Sepertinya tertidur
Namun, hey! Lama-lama sepi
Mana suara ombak itu?
Kubuka mata, dan bangkit
Yang kulihat adalah dinding, dan gorden kamarku yang biasa
Tak ada pasir, biru, camar, ayunan, apalagi ombak
AH! AKU INGIN PANTAI!

Merindu

Saat kamu datang kemarin sore, aku memaki.
Sebenarnya sih, tidak memaki sepenuhnya
Aku masih akan selalu suka wangimu
Ya, wangimu saja, tidak dengan 'temanmu' yang suka marah-marah itu
Bilang padanya, aku takut. Jangan teriak keras-keras

Hey, kamu. 
Hari ini padahal aku sudah siap memaki lagi
Habis, aku melihat tanda kelabu itu,
saat kutengadahkan kepala
"Kamu lagi", aku bilang.
Satu jam, dua jam, tiga bahkan lima jam aku menunggu
Apakah kamu merasa bersalah? Telah membuatku menggerutu sepanjang Sabtu?
Hey, aku cuma bercanda.
Besok-besok datang lagi, ya?






Jangan pergi lagi hujan, aku rindu.