Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

#noted 6

"Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi ‘hadiah’ yang hebat untuk orang-orang yang bersabar. 
Sementara jika waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar." (Tere Liye)

Thursday, May 23, 2013

Sebuah postingan, sebaris inspirasi

23 Mei 2013

Di tengah kelas Metpenstat III yang sedang berlangsung, iseng saya membuka favorited tweets Bapak Anies Baswedan. Tokoh pendidikan yang satu ini, adalah orang pertama yang menggugah hati dan pikiran saya untuk membuka mata lebar-lebar tentang pendidikan di negeri ini.
Dari salah satu favorited tweets yang ada dalam akun beliau, saya menemukan sebuah link yang merujuk pada p0stingan blog. Beliau yang menulis,  judulnya "Pondok Ban Tan dan Dr. Surin Pitsuwan".
Cukup lama saya membaca isi postingan tersebut. Dan saya terhenti di satu paragraf:

"Sekali lagi kita ditunjukan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya."

Ah.. Pak Anies memang tidak pernah gagal menginspirasi melalui kisah demi kisah yang beliau tuturkan.


Terimakasih, Pak! :)

Friday, May 10, 2013

#14: Seribu Semangat untuk Sela

Gadis kecil dengan tubuh menjulang tinggi—melebihi kawan-kawan seusianya itu menghampiriku sambil tersipu malu.
Bu, kieu?” (Bu, gini? –red), ia menunjukkan buku tulisnya padaku.
Di buku tulis itu tertera namanya. Empat huruf.
SELA.
Ditulis mirroring.
Aku tersenyum padanya. Poni rambutnya yang mencuat jelas terlihat dari balik kerudung pink yang setiap hari ia pakai ke sekolah.

Sela anak yang pendiam. Di kelas dia selalu duduk di bangku paling belakang. Sendiri.
Satu hal yang cukup mengagetkanku juga adalah sikap teman-temannya yang tak jarang mencemooh dia dan mengatakan Sela “belet”. Bahasa Sunda untuk kata “bodoh”.
Nyess.
Mencelos hatiku seketika mendengar kata-kata semacam itu keluar dari mulut anak-anakku.

Sela memang tergolong slow learner di kelas. Ia tertinggal dari teman-temannya terutama dalam hal mengenal huruf. Ia baru mengenal sekitar empat hingga lima huruf.
Satu lagi. Seperti yang telah kukatakan di awal: Sela menulis dengan mirroring—atau terbalik.
Teman-temannya mungkin tidak mengerti, sehingga akhirnya memberikan label “bodoh” tadi.

Semula kukira Sela mengalami disleksia/disgrafia. Sebuah istilah untuk menggambarkan gangguan dalam  hal membaca ataupun menulis. Namun, saat kuperhatikan kembali gejala-gejala yang ada, aku simpulkan bahwa Sela tidak mengalami gangguan. Ia sepertinya menerima stimulus yang kurang tepat sejak ia kecil, sehingga belajar menulis dan membaca tidak se-optimal anak-anak lainnya.

Dibalik semua kendala yang ada, Sela adalah salah satu murid favoritku. Dia memang bukan termasuk anak yang cerdas di kelas, tapi dia mau belajar. Dia mau belajar, dan tidak takut salah.
Meski berkali-kali aku harus mengulangi instruksi untuk menulis huruf “S” yang benar.
Meski berkali-kali aku harus mengulangi instruksi untuk menulis angka “4” yang benar.
Sela selalu ingin maju ke depan.
Dan saat pekerjaannya belum benar, dia akan kembali ke bangkunya.
Berkutat dengan tugas.
Dan kembali padaku.
Begitu selalu.

Aku penasaran.
Dengan modal semangat, aku, ditemani panitia&pengajar lain, mengunjungi rumah Sela di Bulakan. Yang ternyata begitu sulit dilalui.
Tapi tidak apa-apa, kalo tidak sekarang, kapan lagi?

Sesampainya di rumah Sela, aku mengobrol dengan ibunya mengenai keadaan Sela di rumah dan di sekolah.
Hmm.. pantas saja, di rumah tidak ada yang mengajari Sela membaca dan menulis.

Aku melirik pintu kayu tepat di sebelahku. Disana tertulis abjad-abjad dari A-Z. Ditorehkan kasar dengan pulpen. Dan, seperti biasanya.. abjad tersebut tertulis dengan mirroring—atau terbalik. Aku melempar senyum ke arah Sela yang sedang bermain di luar rumah.

Ia anak yang sangat bersemangat belajar. Segala keterbatasan ini sama sekali tidak boleh menyurutkan semangatnya.

Tidak sekali pun.



Waktu kita memang tidak banyak, sayang. Tapi satu hal yang bisa ibu berikan untuk Sela: seribu semangat setiap harinya. Boleh? :)

Saturday, February 16, 2013

#noted 5

12 Februari
Kelas Mata Kuliah Pendidikan Anak Berbakat

"Sebagai seorang psikolog, yang kita lihat dari seorang anak itu bukanlah prestasi, tapi potensi."
(Bu Reni, 2012)

13 Februari
Kelas Mata Kuliah Psikologi Bermain

"Child shall have full opportunity to play."
(Deklarasi PBB, pasal 7 ayat 3)
"Anak-anak itu seharusnya bukan belajar sambil bermain, atau bermain sambil belajar--tetapi belajar melalui bermain."
(Mbak Mita, 2013)

Tuesday, December 25, 2012

Habibie&Ainun--sebuah kisah abadi


http://www.pesatnews.com/pictures/201204221743131.jpg


"Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi yang jelas saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun."  -Habibie

"Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi istri yang baik. Tapi aku berjanji akan selalu mendampingi kamu." -Ainun
 
"Kamu itu adalah orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah kutemui, tapi jikalau aku harus mengulang kembali hidupku--aku akan tetap memilih kamu." -Ainun 

"Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya, setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu." -Habibie

"Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita. -Habibie&Ainun


Sebuah surat cinta dari Habibie--untuk Ainun
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. 
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, 
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang
sekejap saja,
lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati
Hatiku seperti tak di tempatnya
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, 
pada kesetiaan yang telah kau ukir
pada kenangan pahit manis selama kau ada.

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, 
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia.
Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada..

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku..

Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya.

Habibie-Ainun.
Kini, kedua kata tersebut seketika terasosiasi dengan sebuah kisah
dimana "cinta abadi" bukan hanya milik negeri dongeng.

Ah, jika banyak orang berkata
"Dimana saya bisa dapatkan seseorang seperti Pak Habibie? Seperti Bu Ainun?"
Hmm.. sesungguhnya saya punya pandangan lain,
baik Pak Habibie dan Bu Ainun sama-sama memilih untuk menjadi orang yang tepat,
bagi pasangan masing-masing.

Yep, it is not about finding the right person, but be the right person for someone whom you choose to love :)

Semoga kamu--iya kamu yang sedang membaca postingan ini: semoga bisa menjadi orang yang tepat untuk seseorang yang kamu cintai, ya.

"Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia & membuatmu berarti lebih dari siapapun." -Habibie&Ainun




*pic from this, surat cinta from this

Saturday, December 22, 2012

#noted 4

Dalam hidup--hanya ada 'koma', karena 'titik' itu kuasa Tuhan (Mathias Muchus, 2012)

Saturday, December 15, 2012

Tentang Menjadi Spesial


Rabu, 12 Desember
Kelas Mata Kuliah Anak Luar Biasa

Sama seperti minggu lalu, kelas kami kedatangan tamu (lagi). Ibu Frieda Mangunsong mengawali kelas dengan memperkenalkan narasumber. Namanya Mbak Galuh. Beliau adalah seorang tunarungu.

Atensi seluruh kelas tersedot saat Mbak Galuh memulai presentasi. Beliau menggunakan bahasa isyarat--yang kemudian diterjemahkan langsung oleh seorang interpreter.

**
"Saya kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama. Lima tahun--saya tidak mendapatkan apa-apa."

"Dosen tidak pernah mengijinkan saya membawa interpreter di kelas. Padahal, untuk berkomunikasi secara oral, saya mengalami kesulitan. Tidak ada yang mengerti. Saya dilabel "bodoh", dan "cacat"."

**
"Saat bencana gempa bumi melanda Yogyakarta beberapa tahun silam, anak-anak tuli banyak menjadi korban. Mereka tidak bisa mendengar. Mereka tidak mengerti instruksi orang-orang untuk "berlari", untuk "sembunyi". Mereka kebingungan."

"Saya kemudian diajak bekerja sama dengan sebuah LSM dari Jerman untuk membuat sebuah perangkat bahasa isyarat yang dapat digunakan dalam keadaan emergency, terutama saat terjadi gempa bumi. Saya mengajukan perangkat tersebut ke Mendiknas. Perangkat kami ditolak dengan alasan 'pembodohan'."

"Anda tahu cita-cita saya? Cita-cita saya adalah menjadi diplomat. Ya, banyak orang yang menertawakan. Banyak yang berkata nonsense. Namun Allah SWT. memiliki skenario lain. Saya membawa perangkat tersebut ke PBB dan mempresentasikannya di depan delegasi-delegasi tiap negara dari seluruh dunia."

"Semua bertepuk tangan. Delegasi dari Turki, Jepang, Eropa, Amerika, semuanya, semuanya bertepuk tangan. Mereka kagum. Mereka bangga. Bahkan, saat perangkat bahasa isyarat tersebut diujicobakan pada anak-anak Thailand, mereka menangis."

"Anda tahu apa yang dilakukan oleh delegasi Indonesia yang terhormat saat saya mempresentasikan perangkat tersebut? Beliau tertidur."

**
"Betapa sedih hati saya melihat 80% anak-anak tuli di Indonesia tidak bisa membaca dan menulis. Sejak kecil mereka dijejali dengan alat bantu dengar, bahkan segera setelah lahir, beberapa dari mereka diberikan implan cochlea melalui operasi. Mereka dipaksa untuk "normal". Padahal mereka, kami, sudah diciptakan Tuhan dengan sempurna."

"SLB atau Sekolah Luar Biasa hadir justru bukan menjadi solusi bagi anak-anak tersebut. Anak-anak belajar dengan cara menyalin kembali apa yang guru ajarkan di kelas. Nilai-nilai mereka bagus. Mengapa? Karena guru yang mengerjakan."

"Pemerintah membuat sebuah kamus bahasa isyarat yang didistribusikan ke seluruh SLB di Indonesia. Namun, pembuatannya sama sekali tidak melibatkan tunarungu. Anak-anak, guru-guru, tidak mengerti isi dari kamus tersebut, sehingga bahasa isyarat tidak digunakan sebagaimana mestinya."

"Padahal bahasa isyarat merupakan bahasa ibu bagi kami. Bahasa isyarat membuka pintu selebar-lebarnya bagi kami untuk menyerap informasi, menyerap ilmu pengetahuan. Bahasa isyarat telah diakui di berbagai belahan dunia. Tapi di Indonesia..bahasa isyarat didiskriminasi."

"Anak-anak tunarungu memiliki hak. Meniadakan bahasa isyarat, tidak mengijinkan interpreter membantu proses belajar seorang tunarungu di kelas, sama saja dengan mengambil tongkat dari seorang tunanetra, atau mengambil kursi roda dari pemakainya."

"Ada yang perlu dibenahi dari pendidikan di Indonesia. Mulai dengan mengubah stigma yang ada."

**

Jujur, aku tercengang mendengar apa yang beliau sampaikan di depan kelas.
Dan lebih tercengang lagi saat mengetahui bahwa beliau telah menempuh jenjang pendidikan hingga S3.
Subhanallah..
Engkau Maha Adil..

Terimakasih Mbak Galuh
untuk sharing-nya yang sangat bermakna

dan untukMu,
Terimakasih Ya Allah
karena selalu mengingatkan
alasanMu menempatkanku disini
Kau ingin aku melihat, Kau ingin aku mengerti
apa artinya memperjuangkan.



"Bagi saya, kelemahan bukan sesuatu yang harus disempurnakan. Tuhan justru tengah mendidik kita melalui orang-orang dengan kelemahan ini. Ambil pelajaran, jadikan mereka inspirasi." -(Mbak Galuh, 2012)

Saturday, October 20, 2012

Noted #2

"Rasa malas itu muncul karena kita lupa, berjuang untuk apa dan berjuang untuk siapa" 
(@chevyiskandar, 2012)



*p.s: teruntuk nama-nama yang tertera di post it--yang ditempel di dinding kamar:
semua ini, untuk kalian :)

Sunday, September 30, 2012

Indeed

"Never underestimate the pain of a person, because in all honesty, everyone is struggling. Some people are better at hiding it than others." -Will Smith

Thursday, September 20, 2012

Tahu Diri*


"Hai, selamat bertemu lagi..

Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau ada di sini


Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri 

di depanmu kini

Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan..upayaku tahu diri..
Tak slamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah,

menghilang sajalah
lagi

Bye, selamat berpisah lagi


Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini


Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan sgala khayalan gila

Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang 

menjadi yang di sisimu
Membenci

nasibku yang tak berubah

Berkali-kali ku tlah berjanji
Menyerah....

Pergilah,menghilang sajalah
Pergilah,menghilang sajalah 

lagi..."



*OST Perahu Kertas 2- Tahu Diri

P.S: Jangan diresapi ya, nanti kamu gigit-gigit jari sendiri :)

Monday, September 3, 2012

Noted #1

"Seorang psikolog sejati itu tahu kapan harus mendengarkan kepala, dan kapan harus mendengarkan hati. Itulah yang namanya kecerdasan intrapersonal." 

(Tika Bisono, 2012)

Friday, August 31, 2012

Tentang Mengajar, dan Belajar



Hujan deras menyapu jalanan berdebu. Menyeruakkan bau khasnya yang akhir-akhir ini kuketahui sebagai reaksi kimia pertemuan air hujan dan bakteri.
Dari balik kaca angkutan umum yang kunaiki, aku bisa melihat anak-anak kecil berlarian bertelanjang kaki. Sibuk menawarkan payung pada setiap orang yang lewat. Salah seorang diantara mereka masih mengenakan seragam Sekolah Dasar.

Ah. Kemudian aku teringat dengan sebuah buku yang kupinjam dari seorang teman. Aku mengeluarkannya dari tas. Melanjutkan membaca. Buku bersampul hijau itu berjudul: Indonesia Mengajar.
Buku tersebut merupakan kumpulan kisah para Pengajar Muda yang mengabdikan dirinya mengajar di pelosok negeri.
Setiap selesai membaca satu kisah--selalu saja ada jeda, dan hembusan napas panjang. Entah itu termenung, berkaca-kaca, atau senyum senyum sendiri.

Aku juga punya kisah tentang menjadi seorang pengajar. Kali ini, aku tidak berjibaku dengan minimnya teknologi, medan yang berat, atau anak-anak yang sama sekali tidak mengenal baca tulis—seperti yang dihadapi oleh para Pengajar Muda. Aku hanya seorang volunteer pengajar pada sebuah program community development Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa F.Psi UI bernama CoH (Children of Heaven).

Setiap Minggu pagi, pukul delapan, kami para pengajar—yang notabene merupakan mahasiswa/i Fakultas Psikologi UI—berbondong-bondong menaiki angkutan umum menuju kawasan Pancoran Mas, Depok. Dengan sedikit menelusuri jalan yang sedikit sempit dan padat penduduk, kami tiba di sebuah tempat yang ‘disulap’ menjadi tempat kami mengajar.

Setibanya disana, tangan-tangan kecil itu sudah siap menyerbu untuk bergantian menyalami tangan kami. Sejurus kemudian mereka sudah banyak berceloteh. Bertanya mana kakak ini, mana kakak itu. Beberapa diantara mereka datang dengan wangi sabun yang menyengat dan pipi cemong bertaburan bedak. Lucu.

Sebelum kegiatan mengajar dimulai, kami bernyanyi bersama. Lagu favorit anak-anak ini (atau sejauh ini, yang paling sering kudengar)adalah “kepala, pundak, lutut, kaki”. Satu orang ditunjuk untuk memimpin teman-teman yang lain. Sembari memperagakan.

Kegiatan mengajar pun dimulai seiring lagu berakhir. Aku bergegas menuju satu spot tempat mengajar murid-murid kelas satu Sekolah Dasar. Biasanya jumlah mereka sekitar empat hingga enam orang. Atau lebih.
Di depan whiteboard yang berdiri tegak, mereka duduk bersila. Sudah siap dengan buku tulis, pensil, dan penghapus.

Sejujurnya, aku tidak rutin datang mengajar. Terkadang sebulan tiga kali, dua kali, atau bahkan satu kali. Tapi dari pertemuan kami yang dapat dihitung dengan jari, aku tahu pelajaran favorit mereka adalah Matematika. Setiap aku, atau kakak pengajar lainnya bertanya, “Mau belajar apa hari ini?”, serempak mereka berseru “Matematika!”.

Murid-murid kelas satu ini sangat beragam. Mulai dari yang aktif bertanya, malas-malasan, malu-malu, hingga yang tak pernah berbicara sepatah kata pun. Daya tangkap tiap anak pun berbeda. Persamaan mereka satu: suka sekali cokelat.
Ya, terkadang kami sengaja membeli cokelat sebagai reward bagi anak yang mampu mengerjakan soal dengan benar. Tujuannya, agar mereka lebih semangat dan antusias. Hasilnya? Berhasil! Anak-anak itu berebutan mengacungkan tangan. 




Melalui anak-anak ini, dan kisah demi kisah yang dituturkan para Pengajar Muda--aku menyadari satu hal: seorang pengajar bukan hanya mengajar. Ia juga belajar. 
Murid-murid nya lah yang justru mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Tentang keikhlasan. Tentang ketulusan.


Aku masih ingin belajar, Ya Rabb.
Permudah jalanku.
Aaaamiiin.







Special thanks to:
*Muhammad Ramadhani Ilham, yang sudah meminjamkan bukunya. Terimakasih.
*Annisa Dwi Astuti, yang sudah menularkan euphoria Indonesia Mengajar. 
Beberapa tahun lagi ada di profil Pengajar Muda ya, teh (plus ketemu si-visi-sama). Insya Allah :)

Wednesday, April 4, 2012

Sejuta Alasan


Sebuah puisi.
Anonim;
namun cukup membuat merenung.



"Jika aku mencintaimu karena sifatmu yang ceria
Menjadi semangat yang menyala dalam dada
Kemudian aku bertanya,
Bila keceriaan itu kelam dirundum duka
Seberapa muram cintaku padamu nantinya? 
Jika aku mencintaimu karena kecantikanmu
Meredupkan pandangan di mataku
Kemudian aku bertanya,
Saat kecantikan itu memudar ditempuh usia
Seberapa pudarkah kelak cintaku kan ada? 
Jika aku mencintaimu karena keramahanmu
Memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu
Kemudian aku bertanya,
Kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka
Seberapa mampu cintaku memendam praduga? 
Jika aku mencintaimu karena cerdasnya dirimu
Membuatku yakin pada setiap pekerjaanmu
Kemudian aku bertanya,
Ketika kecerdasan itu hilang meniti usia
Seberapa bijak cintaku untuk tetap bersama? 
Jika aku mencintaimu karena kemandirianmu
Menyematkan rasa banggaku padamu
Kemudian aku bertanya,
Di saat sifatmu yang manja menjengah
Seberapa besar cintaku padamu untuk dibanggakan? 
Jika aku mencintaimu karena tegarnya sikapmu
Menambatkan rasa kagumku pada utuhnya pertahananmu
Kemudian aku bertanya,
Andai ketegaran itu rapuh diterpa badai
Seberapa kuat cintaku yang tinggal? 
Jika aku mencintaimu karena pengertian yang kau berikan
Menumbuhkan ketenangan dengan kepercayaan yang kau tanam
Kemudian aku bertanya,
Kelak pengertian itu ditelan ego sesaat
Seberapa banyak mampu ku mengerti tanpa syarat? 
Jika aku mencintaimu karena luasnya kesabaranmu
Menambah dalamnya rasa cinta semakin ku mengenalmu
Kemudian aku bertanya,
Mungkin kesabaran itu mencapai batasnya,
Seberapa besarkah cintaku mampu memaafkan? 
Jika aku mencintaimu karena keteguhan iman yang kau punya
Bagai siradj yang benderang mengantarkan cahaya
Kemudian aku bertanya,
Kala iman itu jatuh merundum
Seberapa banyak sisa cinta yang terangkum? 
Jika aku mencintaimu karena engkau lah yang telah kupilih
Yang kan kupegang sepanjang hayat
Kemudian aku bertanya,
Saat hati ini tergoncang
Seberapa mantapkah cinta ini untuk tetap setia?
  
Biarpun sejuta alasan
Tetap tidak mungkin cukup
Membuat cintaku tetap bersamamu 
Melainkan jika aku mencintaimu karena Ilahi 
Karena Dia kan selalu ada
Untuk menjaga keutuhan cinta ini
Hingga kelak ku tak mampu lagi mencintaimu
Karena cintaku… berpulang padaNya
."


 (via: hasbunallah)

Monday, January 9, 2012

Laugh!

image

"Girls, listen. You've connected. You're standing on the same turf. Laughing together is as close as you can get to a hug without touching."





(taken from article The Secret Behind Women's Laughter; PsychologyToday)

Friday, December 23, 2011

Mystery

siehsm

"Maybe that's all we need is to meet in the middle of impossibilities. Standing at opposite poles, equal partners in a mystery."
(Indigo Girls- Mystery)

Friday, December 9, 2011

Cinta dalam Diam

Suatu malam, seorang teman mengirimkan pesan
melalui broadcast message blackberry messenger
yang membuat hati seketika 'mencelos',
entah karena haru, lega, atau.. 'berharap'
Entahlah---yang jelas pesan ini membuatku tersenyum :)

Jika kau belum siap melangkah dengan seseorang,
cukup cintai ia dengan diammu
karena diammu, adalah bukti; cintamu padanya,
dan dengan begitulah kau memuliakan dirinya.
Karena kau; tak mengajaknya menjalin hubungan
yang terlarang,
dan kau; tak merusak kesucian, dan penjagaan hatinya.
Dari diammu, sungguh, telah memuliakan dirinya
dan dirimu juga akan terjaga.
Sebagaimana Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib,
yang diam dalam cinta,
namun akhirnya bersanding di pelaminan.
"Bersabarlah dalam diammu, karena tulang rusuk tak akan pernah tertukar"

Saturday, November 26, 2011

"Palung terdalam terletak di matamu. Tatap aku lama-lama, aku senang tenggelam disana."
-Rahne Putri, 2011

Tuesday, November 8, 2011

Sudahkah?

Di bawah ini merupakan penggalan dari post di blog perempuansore, berjudul "Pertemuan"
"Terlalu banyak tahu mengenai misteri kehidupan pun tidak seru. Sebagai makhluk yang paling kecil, hendaknya berserah kepada yang sempurna itu—yang akhirnya membawa kepada pertemuan. Tidak masalah dengan siapapun. Ketika bertemu suatu hari nanti, itu adalah hari yang dipercaya, hari yang disiapkan, hari yang tidak direncanakan menurut pikiran. Hanya terjadi begitu saja, mengalir.  

Sampai di sini, tak usahlah menebak-nebak. Biarkanlah  ia berjalan dengan semestinya. Natural. Semisterius mungkin. Dan bersiaplah untuk dikagetkan.

Hari dimana kau dipertemukan—mungkin adalah hari dimana kau lupa pernah kehilangan panjang. Dengan siapa—entah."


Kepada kamu--yang entah siapa--apakah kita sudah bertemu?